Kamis, 08 Desember 2011

perawatan kain songket

Cara Perawatan Kain Songket

Indonesia sangat diberkahi dengan keanekaragaman budaya dan kerajinan tangan, termasuk berbagai jenis kain tenunannya. Salah satunya adalah kain songket, kain tenunan indah yang biasanya memakai bahan halus sutra dihiasi dengan dengan benang berwarna emas atau perak. Proses pembuatan untuk satu helai kain tradisional memakan waktu lumayan lama, bisa berminggu-minggu bahkan sampai berbulan-bulan, apalagi untuk motif-motif yang rumit. Bila Anda memiliki kain tenun songket, sudah sepatutnyalah Anda pelihara. Di bawah ini tips singkat untuk perawatan songket termasuk kain songket Palembang:
1. Kain songket dianjurkan untuk tidak dicuci supaya benangnya tidak rusak. Namun, apabila Anda harus mencucinya, cucilah kain tradisional dengan memakai pelembut saja dan cukup dibilas kemudian dianginkan-anginkan. Jangan di-dry cleaned, di-laundry atau dijemur di bawah sinar matahari langsung.
2. Sebaiknya setelah Anda memakainya, kain tenun songket dianginkan-anginkan sebelum disimpan.
3. Dalam penyimpanannya, kain tenun songket jangan dilipat agar sulaman tidak rusak. Kain tenun digulung seperti karpet dengan menggunakan paralon atau karton, sebelumnya terlebih dahulu dilapisi dengan kertas minyak atau kertas roti, memakai kertas koran tidak dianjurkan. Masukkan akar wangi supaya kain tidak menjadi bau.
4. Kain tenun tradisional yang telah digulung kemudian dibungkus dengan plastik atau tabung kertas. Disimpan dalam lemari dalam posisi berdiri atau miring. Lemari diberi kamper atau ditaburkan sedikit lada atau cengkeh agar rayap, ngengat dan semut tidak berani mendekat.
5. Keluarkan kain tenun tradisional dari penyimpanan sebulan sekali untuk dianginkan-anginkan apabila kain sudah lama tidak dipakai.

Busana Rajutan

Busana Rajutan Cindora

Oleh Rakadewa
Diposting pada 06 Aug 2010 jam 4:41pm
Busana Rajutan Cindora
Seorang perancang mode dari Bangkok, Thailand telah masuk ke Indonesia untuk memperkenalkan berbagai mode pakaian wanita yang penuh kenyamanan, bergaya atau stylish, serta juga mengandung citra kemewahan.
Perancang Supattana Wattanarangson hadir di Jakarta melalui butik yang bernama Cindora Boutique dengan menampilkan berbagai jenis pakaian yang penuh kenyamanan, bergaya atau stylish, serta nampak sekali sentuhan modenya.
Supattana yang merupakan perancang Cindora Boutique menjelaskan pakaian yang diproduksi Cindora adalah buatan tangan atau handmade sehingga tidak akan ada produksi yang bersifat massal. Dengan demikian kualitas produk pakaiannya sangat terjamin.
Ia mengemukakan sasarannya adalah perempuan-perempuan yang mempunyai kepribadian, memperhatikan gaya tanpa perlu terlalu terbuka, percaya diri , luas pergaulannya namun ceria.
“Menyuguhkan aneka rangkaian yarn dari katun yang nyaman untuk gaya casual dan aktif serta rayon seperti satin untuk acara formal dengan menampilkan keahlian dan produk ternama untuk knitwear fashion,” kata Supattana.
Sementara itu, CEO Cindora Indonesia , Hardy Widjaya mengemukakan produk-produk butik ini ditujukan ke berbagai lapisan masyarakat mulai remaja, wanita muda, wanita pekerja, hingga ibu rumah tangga.
Hardy Widjaya menyebutkan konsep pakaian yang ditawarkan adalah untuk beraneka ragam acara mulai dari casual sampai dengan pesta santai, sehingga mampu menciptakan “mood” para pemakainya melalui padu padan atau fashionable.
Cindora Boutique sebelum hadir di Plaza Indonesia terlebih dahulu sudah beroperasi di Jepang, Singapura serta Thailand dan nanti akan didirikan butik-butik sejenis di berbagai negara lainnya.
“Cindora adalah kumpulan lengkap unik rajutan dengan siluet yang inovatif dan feminin. Branding style kami adalah loose and fluid; layering, comforts, stylish, mixand match,” kata Hary.
PT Cindora, agen busana rajut Cindora asal Singapura, sampai akhir tahun ini akan membuka tiga butik di Jakarta.
Jakarta dinilai masih jarang terdapat busana rajutan yang modis dengan target pasar perempuan muda berusia 17-30 tahun.
“Rajutan untuk anak muda ini tersedia dalam model dress, blouse, cardigan, rompi, aksesori, dan sementara ini untuk wanita dan anak perempuan,” jelas Indria P. Tohan, Marketing Director Cindora Boutique Indonesia, usai pembukaan butik Cindora di Plaza Indonesia, Jakarta, Kamis (5/8/2010) lalu.
Dari tangan perancang busana asal Thailand, Suppattana Wattanarangson, busana rajutan dari butik Cindora memiliki karakter khas, unik dan stylish. Padu padan rajutannya memiliki siluet yang inovatif dan feminin. Gaya busananya identik dengan loose & fluid, layering, stylish, namun tetap nyaman dipakai.
“Kami optimistis dengan pasar busana rajutan di sini [Jakarta] karena menampilkan teknik rajutan yang berbeda sehingga kami dapat menampilkan busana dengan desain dan kombinasi warna yang fashion,” kata Direktur Pemasaran Cindora Indonesia Indria P Tohan setelah acara peresmian butik perdananya di Plaza Indonesia kemarin.
Menurut Indria, pasar dari busana rajutan yang terbuat dari 100% katun itu dibuat sesuai dengan desain. Cindora adalah kumpulan lengkap campuran unik rajutan dengan siluet yang inovatif dan feminin.

Pakaian tradisional korea

HANBOK : MENGENAL PAKAIAN TRADISIONAL KOREA

Entah sudah berapa tahun yang lalu, saya pernah melihat drama Korea yang mengisahkan tentang seorang mahasiswi yang jatuh cinta pada dosennya, dan dalam cerita itu yang saya ingat adalah ketika sang mahasiswi menanyakan pakaian apa yang menurut pria dosen itu paling seksi. Ia menjawab ” Hanbok “. Drama terus berlanjut, namun saya pada kesempatan kali ini tidak membahas cerita drama Korea tersebut, namun membahas mengenai pakaian yang namanya “Hanbok” tersebut.
Awal tulisan ini adalah inisitif dari seorang teman yang ingin memadukan antara hanbok Korea dengan batik Indonesia. Sebelum mewujudkannya tentu saya mencoba menulis tentang apa hanbok itu.
Hanbok adalah pakain tradisional Korea Selatan atau Chos?n-ot untuk sebutan di Korea Utara.  Hanbok pada umumnya memiliki warna yang cerah, dengan garis yang sederhana serta tidak memiliki saku. Walaupun secara harfiah berarti “pakaian orang Korea”, hanbok pada saat ini mengacu pada “pakaian gaya Dinasti Joseon” yang biasa dipakai secara formal atau semi-formal dalam perayaan atau festival tradisional, misalnya tahun baru  seollal ( imlek ) atau perayaan chuseok.
Bagian-bagian Hanbok. :
1. Jeogori ( 저고리 ) : ialah bagian atas dari hanbok ( baju ).Untuk hanbok laki-laki ukurannya lebih besar dan simple, sedangkan untuk wanita agak pendek dan ditandai garis lengkung  dan dekorasi yang lembut.
2. Dongjeong :
img_11_266_7Entah sudah berapa tahun yang lalu, saya pernah melihat drama Korea yang mengisahkan tentang seorang mahasiswi yang jatuh cinta pada dosennya, dan dalam cerita itu yang saya ingat adalah ketika sang mahasiswi menanyakan pakaian apa yang menurut pria dosen itu paling seksi. Ia menjawab ” Hanbok “. Drama terus berlanjut, namun saya pada kesempatan kali ini tidak membahas cerita drama Korea tersebut, namun membahas mengenai pakaian yang namanya “Hanbok” tersebut.
Awal tulisan ini adalah inisitif dari seorang teman yang ingin memadukan antara hanbok Korea dengan batik Indonesia. Sebelum mewujudkannya tentu saya mencoba menulis tentang apa hanbok itu.
Hanbok adalah pakain tradisional Korea Selatan atau Choson-ot untuk sebutan di Korea Utara.  Hanbok pada umumnya memiliki warna yang cerah, dengan garis yang sederhana serta tidak memiliki saku. Walaupun secara harfiah berarti “pakaian orang Korea”, hanbok pada saat ini mengacu pada ” pakaian gaya Dinasti Joseon” yang biasa dipakai secara formal atau semi-formal dalam perayaan atau festival tradisional, misalnya tahun baru  seollal ( imlek ) atau perayaan chuseok.
Bagian-bagian Hanbok :
hanbok copy1. Jeogori: ialah bagian atas dari hanbok ( baju ).Untuk hanbok laki-laki ukurannya lebih besar dan simple, sedangkan untuk wanita agak pendek dan ditandai garis lengkung  dan dekorasi yang lembut.
2.Deong Jong : yaitu krah yang berwarna yang berwarna putih .
3.  Otgoreum (Cloth Strings):  adalah pita yang dipakai pada baju hambok untuk wanita, yang melintang hingga ke Rok ( chima )
4. Chima : adalah rok pada bagian hanbok. Ada berbagai macam jenis chima, ada yang lapisan tunggal dan ada juga yang double.
5.Pattern:  susunan gambar atau garis  dan juga perpaduan warna.
Masih banyak lagi istilah bagian pada hanbok, misalnya baerae ( pada lengan ), kket dong ( lengan ) dan lain sebagainya.
Untuk hanbok pria ada ” baji ” yaitu celana untuk hanbok. biasanya bentuknya longgar .
Pada kesempatan ini kita akan belajar memakai otgoreum ( pita ) pada hanbok, karena walaupun nampak sederhana, namun seringkali kesulitan .
otgori
1. Ada dua sisi yang kita anggap A ( kiri )  dan B ( kanan ) . Letakkan sisi A di atas sisi B.
2. Sisi A putar dan tarik ke atas.
3. Dengan panjang kira-kira 10 cm lipat sisi B
4. Kembali sisi A diputar ( di talikan ) lagi.
5. Tarik dan rapikan.
6. Atur keserasian panjang antara kedua sisi tersebut.

FASHION KOREA

Fashion Korea!

Ini terinspirasi dari K-drama yang sering tayang di TV nih chingu! Bukan hanya aktor maupun aktrisnya yang cakepnya kagak kalah ama author, *plakK tentunya dukungan gaya berpakaian mereka mampu menjadi salah satu patokan gaya berpakaian anak muda jaman sekarang! Sedikit sample yang author kasih, mungkin dapat dijadiin pertimbangan gaya berpakaian kalian.. kekeke *^0^*


-Simple tapi keliatan keren chingu! Author banged! *plakKKK

-Sporty!



-Ini juga salah satu gaya fav author! wekekeke :D

-Nah, yang ini gaya feminin punya^^



-Gaya asikk!



-Ini Korean’s simple style ala anak ABG di sana! tapi jangan di tiru di Indo yak, gak kebayang panasnya.. :D

KAIN SASIRANGAN


Jan 23, '09 2:53 AM
untuk semuanya
Menurut sejarah sekitar abad XII sampai abad ke XIV pada masa kerajaan Dipa atau kerajaan Banjar, cerita rakyat atau sahibul hikayat, kain sasirangan yang pertama dibuat yaitu tatkala Patih Lambung Mangkurat bertapa selama 40 hari 40 malam di atas rakit balarut banyu. Menjelang akhir tapanya rakit Patih tiba di daerah Rantau kota Bagantung. Dilihatnya seonggok buih dan dari dalam buih terdengan suara seorang wanita, wanita itu adalah Putri Junjung Buih yang kelak menjadi Raja di Banua ini. Tetapi ia baru muncul ke permukaan kalau syarat-syarat yang dimintanya dipenuhi, yaitu sebuah istana Batung yang diselesaikan dalam sehari dan kain dapat selesai sehari yang ditenun dan dicalap atau diwarnai oleh 40 orang putri dengan motif wadi / padiwaringin. Itulah kain calapan / sasirangan yang pertama kali dibuat dan sering disebut oleh masyarakat sebagai batik sandang yang disebut Kain Calapan yang kemudian dikenal dengan nama Kain Sasirangan.

Proses Pembuatanya:
Kain sasirangan yang merupakan kerajinan khas daerah Kalimantan Selatan (Kalsel) menurut para tetua masyarakat setempat, dulunya digunakan sebagai ikat kepala (laung), juga sebagai sabuk dipakai kaum lelaki serta sebagai selendang, kerudung, atau udat (kemben) oleh kaum wanita. Kain ini juga sebagai pakaian adat dipakai pada upacara-upacara adat, bahkan digunakan pada pengobatan orang sakit. Tapi saat ini, kain sasirangan peruntukannya tidak lagi untuk spiritual sudah menjadi pakaian untuk kegiatan sehari-hari, dan merupakan ciri khas sandang dari Kalsel. Di Kalsel, kain sasirangan merupakan salah satu kerajinan khas daerah yang perlu dilestarikan dan dikembangkan.

Kata “Sasirangan” berasal dari kata sirang (bahasa setempat) yang berarti diikat atau dijahit dengan tangan dan ditarik benangnya atau dalam istilah bahasa jahit menjahit dismoke/dijelujur. Kalau di Jawa disebut jumputan. Kain sasirangan dibuat dengan memakai bahan kain mori, polyester yang dijahit dengan cara tertentu. Kemudian disapu dengan bermacam-macam warna yang diinginkan, sehingga menghasilkan suatu bahan busana yang bercorak aneka warna dengan garis-garis atau motif yang menawan.

MODIFIKASI KEBAYA DENGAN KAIN BATIK

Model Kebaya Modifikasi Dengan Bahan Kain Batik

Busana pengantin muslim

Busana Pengantin Muslim

10Jan11
Setelah perjalanan waktu yang panjang, diantara gerak perubahan busana pengantin muslim kembali menggejala. Sosoknya tegar ditengah tentangan badai, bahkan tak jarang terseret-seret ke dalam lingkaran politik, padahal masalahnya akan lebih bisa dipandang secara jernih bila titik pandang mau sedikit bergeser kepada sebuah pijakan pemahanan dinamika proses perbincangan budaya. Kini tahap perbincangan itu mulai memasuki kawasan baru, tarikan-tarikan dunia mode mulai menjamah dan ia mempunyai pola gerak tersendiri yang tak kalah kuat tantangannya, karena ia menggugah pergumulan paling klasik antara panggilan Iman dan godaan duniawi.
Busana Pengantin Muslim
Busana Pengantin Muslim
Konsep berpakaian berdasarkan filosofis Islam telah menciptakan suatu tuntutan baru terhadap dunia busana. Bagaimana menciptakan sebuah busana pengantin yang tepat sesuai makna yang diharuskan, kesempurnaan dalam pengaplikasian kombinasi dari kerudung -jilbab-, sepatu dan veil -selendang- yang pasti menjadi elemen penting dalam sosok busana pengantin muslim.
Kebaya Pengantin Muslim
Kebaya Pengantin Muslim
Tantangan untuk menciptakan sebuah adi karya busana pengantin muslim, dimana pilihan pakaian haruslah longgar tanpa memperlihatkan lekuk tubuh sang pemakainya, seluruh pakaian haruslah menutupi tubuh sang pengantin kecuali bagian telapak tangan dan wajah. Keharusan ini tidaklah bisa dikompromikan karena telah menjadi panduan pasti. Batasan inilah yang menjadi tantangan untuk dunia busana pengantin, mampukah menciptakan reka bentuk busana pengantin muslim yang seutuhnya. Tetap mengacu kepada kemajuan teknologi mungkin dalam pemilihan bahan dan teknik jahitan, tetap menampilkan reka model yang up-to-date, perpaduan aneka aksesoris, aplikasi dari berbagai teknik layering dan drapery, keunggulan penempatan motif-motif bordir, dan lain sebagainya hingga harmonisasi antara busana pengantin pria dan wanita.
Gaun Pengantin Muslim
Gaun Pengantin Muslim
Kehadiran busana pengantin muslim haruslah bisa menjawab tuduhan atas keberadaanya sebagai busana yang tidak menarik, kolot dan tidak praktis. Menciptakan ketertarikan terhadap busana pengantin muslim yang membuat orang mulai berpikir untuk mencoba memakainya tanpa merasa “terpaksa”. Seharusnya kita juga risi dengan parade busana pengantin yang hadir dalam balutan warna-warna menyala dan potongan busana yang “setengah mengintip”. Ditambah penekanan hanya terhadap busana pengantin wanita tanpa memperhatikan busana pengantin pria telah menciptakan ketidakseimbangan, antara revolusi dan evolusi.   Busana Pengantin Muslim